Translate

Tampilkan postingan dengan label blangkon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blangkon. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2019

blangkon jogja

https://www.facebook.com/katalogblangkonjavaombus/?modal=admin_todo_tour

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa .
Sebutan blangkon berasal dari kata blangko , istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai , melainkan sama seperti ikat kepala lainnyayakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit.Seiringng berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.
Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa . Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas .
Sekarang liltan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde .

Surjan adalah pakaian laki-laki jawa dengan ciri : berlengan panjang, berkerah tegak, dan bermotif lurik. Kata surjan, menurut salah satu tafsir, adalah tembung garba atau gabungan dari dua kata, yaitu "Suraksa" dan "Janma" , yang berarti "menjadi manusi". Sementara menurut tepas Dwarapura keraton yogyakarta , surjan berasal dari kata arab "surojan", yang berarti "pelita / penerang". Didalam Al-quran terdapat istilah "sirojan muniran", bermakna "pelita/penerang yang menerangi". Surjan awalnya diciptakan kanjeng Sunan Kalijaga sebagai baju takwa, selanjutnya dijadikan sebagai pakaian resmi Kasultanan Mataram.
Ada beberapa tafsir tentang makna-makna simbolis didalam surjan , diantaranya: bagian leher atau kerah yang memiliki enam kancing adalah melambangkan rukun iman yang jumlahnya enam. Dua buah kancing dibagian dada sebelah kanan dan kiri melambangkan dua kalimat syahadat. Surjan juga memiliki tiga buah kancing yang letaknya dibagian dalam, di dada dekat perut, letaknya tertutup, melambangkan tiga macam nafsu manusia yang harus di redam/dikendalikan/ditutup. Ketiga nafsu tersebut adalahnafsu bahimah(hewani), nafsu lawwamah(nafsu makan dan minum), dan nafsu syaitaniah(nafsu setan).





Rumah/Toko :
Jln. Pasar Ngipik-Pleret, Tegal Cerme, RT. 08, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Daerah Istemewa Yogyakarta. 55197 

Peta : 
Sumber dari Google Maps
klik


(Harga sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan)

Cara Pemesanan :
1. Datang Toko/Rumah.
2. Telp/Sms 0821 3377 5521
3. WA. 0821 3377 5521 / 081804210607




No Rekening Bank.

297289999 an. TRI Yanto
3008 01 015825 533 an. TRI Yanto
900 00 2535594 3 an. TRI Yanto

4451237190 an Eni Sulistyowati

Paket Pengiriman Barang : 



Selasa, 25 Juli 2017

blangko jogja



Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.

sebuatn blangkon berasal dari kata blangko,istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai.dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai,melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit.seiring berjalannya waktu ,maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan.mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian  belakang kepala,sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon.lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon.blangkon surakarta  mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Senin, 10 Juli 2017

BLANGKON JOGJA BATIK TULIS


Spesifikasi Kwalitas Blangkon :
Nama : Blangkon Jogja
Kode Barang : BJBT 0254
Bahan : Batik Tulis
Pengrajin : Java Ombus.
Pembuatan : Alusan dan Alus.
Bahan : Kain keras.
Kwalitas : lentur dan Bisa dicuci.







''Blangkon iku sajinis panutup sirah kanggowong priyo sing sejatine wujud modern lan praktis soko iket . Iket digawe soko kain batik sing rodho dowo banjur dililitake miturut cara-cara lilitan tinentu neng sirah. Lilitan kain iku kudhu isa nutup kabeh sirah (ndhuwur kuping)''
Ya,blangkon adalah salah satu bagian dari pakaian adat khas jawa yang digunakan untuk penutup kepala bagi para pria sebagai pelindung dari sengatan matahari atau udara dingin. Awalnya terbat dari kain iket atau udeng berbentuk persergi empat bujur sangkar,berukuran kurang kurang lebih 105 cm x 105 cm. Kain yang kemudian dilipat dua menjadi segitiga dan kemudian dililitkan dikepala dengan cara dan aturan tertentu. Mengenakan iket dengan segala aturannya ternyata tidak mudah dan memakan waktu,maka timbullah gagasan sering dengan kemajuan pemikiran orang dan seni untuk membuat penutup kepala yang lebih praktis,yang kemudian kita kenal dengan nama blangkon.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti akan asal muasal orang jawa memakai iket sebagai penutup kepala. Iket telah tersebut dalam legenda Aji Saka,pencipta tahun saka atau tahun jawa,sekitar 20 abad yang lalu dimana aji saka berhasil mengalahkan dewata cengkar hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutuoi seluruh tanah jawa. Selain itu,ada cerita-cerita bahwa iket adalah pengaruh budaya hindu dan islam.para pedagang dari gujarat yang keturunan arab selalu mengenakan sorban,kain panjang yang dililitkan dikepala,yang kemudian menginspirasi orang jawa memakai ikat kepala seperti mereka. Cerita lain mengatakan, di satu waktu akibat peperangan kain menjadi barang yang sulit di dapat sehingga petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang lebih efisien yaitu blangkon.






Seorang ahli kebudayaan bernama Becker yang meneliti tata cara pembuatan blangkon mengatakan,"that an object is useful,that it required virtuoso skill to make-neither of these precludes it from also thought beatiful.some craft generate from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriete aesthetic standars and common of taste". Pada jaman dahulu,blangkon memang hanya dibuat oleh para seniman yang ahli dengan pakem (aturan) tentang iket. Semakin memenuhi pakem yang diterapkan,maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya.
Bagi orang jawa,kepala,rambut,dan wajah adalah mahkota,bagian yang terpenting dan terhormat dari tubuh manusia,yang harus selalu dilindungi dan diperhatikan. Kebanyakan orang jawa dahulu memanjangkan rambutnya tapi tidak membiarkannya tergerai acak-acakan. Rambut biasanya digelung atau diikat dengan ikatan kain,yang saat ujung ikatan kain tersebut diikat dibelakang kepala bermakna filosofisberupa peringatan untuk mampu mengendalikan diri. Pria jawa jaman dahulu hanya membiarkan rambutnya tergerai hanya saat berada dirumah atau dalam sebuah konflik,misal perang atau berkelahi. Membuka ujung ikatan kain di belakang kepala (atau  membuka tutup kepala) yang berakibat tergerainya rambut adalah bentuk terakhir luapan emosi yang tak tertahan. Jadi iket atau blangkon adalah perwujudan pengendalian diri.

Saat agama islam masuk ke tanah jawa,blangkon dikaitkan dengan nilai transedental. Dibagian belakang blangkon pasti ada 2 ujung kain yabg terikat,yang satu ujung kain merupakan simbol dari syahadat tauhid dan satu ujung lain adalah syahadat rasul dan terikat menjadi satu bermakna menjadi syahadatain. Setelah terikat,kemudian dipakai dikepala,dibagian yang bagi orang jawa adalah bagian terhormat. Artinya syahadat harus ditempatkan paling atas.pemikiran apapun yang keluar dari kepala harus dilingkupi oleh sendi-sendi islam.

Pada perkembangannya kemudian,blangkon yang awalnya menjadi pelindung kepala yang mempunyai nilai filosofis tinggi kemudian menjadi sebuah simbol atau identitas kelompok serta status sosial dari masyarakat penggunanya. Hal ini ditandai dengan adanya wiron,jabehan,cepet,waton,kuncungan,corak dan ragam hiasnya. Tetapi apapun itu,sebagai orang jawa tulen,bilaanda tidak mampu mengendalikan emosi dan nafsu maka anda tidak berhak mengenakan iket blangkon dikepala!!

Secara umum,ada dua jenis blangkon,yaitu mempunyai mondholan (tonjolan) dan yang tepes (rata). Pada awal iket dipergunakan sebagai tutup kepala,banyak pria jawa yang berambut panjang sehingga harus digelung terlebih dahulu sebelum ditutup dengan iket. Gelung rambut inilah yang kemudian mondol,menonjol,dan disembunyikan dibawah iket. Rambut dalam nilai filosofi orang jawa yang sudah disebutkan diatas adalah representai perasaan. Rambut dibawah iket adalah perasaan yang disembunyikan,yang harus dijaga rapat-rapat,menjaga perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain.








Sebagai bagian dari taktik devide et impera ,VOC menengahi dan memanfaatkan konflik internal kerajaan Mataram.Setelah ditandatangani perjanjian Gianti (1755) Kesultanan Mataram terbagi menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Masyarakat dikeduea daerah ini kemudian tumbuh dengan caranya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah pria Jogya masih berambut panjang dan menggelung rambutnya,sementara pria Surakarta karena lebih dekat dengan orang-orang belanda terlebih dahulu mengenal cara bercukur. Walaupun kemudian orang mulai banyak berambut pendek dan menggunakan blangkon (tidak lagi iket),untuk sebuah pembedaan maka dibuatlah mondholan yang dijahit langsung pada blangkon dari Jogya. Itu mengapa blangkon dengan mondholan dapat ditemukan di Jogya,sementara yang trepes ditemuka di Solo.

Sebenarnya ada banyak varian dari blangkon, yaitu:

1. Kejawen (meliputi daerah banyumas, bagelen, yogyakarta, surakarta, madiun, kediri, malang) dapat dibedakan lagi sekurang-kurangnya dua gaya, yakni Solo dan Yogyakarta.

a. Gaya Solo,dapat dibedakan lagi dengan gaya utara dan selatan.
b. Gaya Yogya,dapat dibedakan jenis lagi menurut wironnya, yakni mataraman dan iket krepyak.

2. Pasundan tidak selalu diartikan secara geografis,misalnya Banten dan Cirebon masuk kelompok pesisiran. Blangkon atau bendo pasundan banyak persamaannya dengan gaya Solo,namun dapat dibedakan melalui beberapa bentuk seperti : barang bangsempla, sumedangan,wirahnasari dan lain-lain.

3. Pesisiran.adalah daerah-daerah yang berlokasi di pantai utara pulau jawa dimana corak budayanya berbeda (penerapan motif batik) dengan daerah pedalaman.

4. lain-lain. disamping yang tidak disebutkan diatas masih terdapat corak atau gaya lain dipulau jawa seperti layaran (jawa timur, dari bangkalan), tengkulak (banten, cirebon, demak) dipakai oleh santri dan lain-lain.

Jadi Blangkon adalah sebuah representasi diri melalui tampilan depan yang rapi, sopan dan berseni (ditandai dengan wiru halus) dari sebuah pengendalian diri yang kat (ikatan dua ujung kain dibagian belakang), pengendalian diri yang juga berbasis atas hubungan manusia dengan sang pencipta.




Jumat, 07 Juli 2017

TOKO PUSAT PERLENGKAPAN BUSANA JAWA


Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.
Sebutan blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai, melainkan sama seperti ikat kepal lainnya yaknimelalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu,maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala.sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.



BUSANA JAWA SURJAN

 




Surjan adalah pakaian laki-laki jawa dengan ciri : berlengan panjang, berkerah tegak, dan bermotif lurik. Kata surjan, menurut salah satu tafsir, adalah tembung garba atau gabungan dari dua kata, yaitu "Suraksa" dan "Janma" , yang berarti "menjadi manusi". Sementara menurut tepas Dwarapura keraton yogyakarta , surjan berasal dari kata arab "surojan", yang berarti "pelita / penerang". Didalam Al-quran terdapat istilah "sirojan muniran", bermakna "pelita/penerang yang menerangi". Surjan awalnya diciptakan kanjeng Sunan Kalijaga sebagai baju takwa, selanjutnya dijadikan sebagai pakaian resmi Kasultanan Mataram. Ada beberapa tafsir tentang makna-makna simbolis didalam surjan , diantaranya: bagian leher atau kerah yang memiliki enam kancing adalah melambangkan rukun iman yang jumlahnya enam. Dua buah kancing dibagian dada sebelah kanan dan kiri melambangkan dua kalimat syahadat. Surjan juga memiliki tiga buah kancing yang letaknya dibagian dalam, di dada dekat perut, letaknya tertutup, melambangkan tiga macam nafsu manusia yang harus di redam/dikendalikan/ditutup. Ketiga nafsu tersebut adalah nafsu bahimah (hewani), nafsu lawwamah (nafsu makan dan minum), dan nafsu syaitaniah (nafsu setan).


KERAJINAN WARONGKO DAN KERIS. 



Cara Pemesanan :
1. Datang Toko/Rumah.
2. Telp/Sms 0821 3377 5521
3. WA. 0821 3377 5521 / 081804210607


Rumah/Toko :
Jln. Pasar Ngipik-Pleret, Tegal Cerme, RT. 08, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Daerah Istemewa Yogyakarta. 55197 

Peta : 
Sumber dari Google Maps
klik














Java Ombus Pusat Perlengkapan Busana Jawa





Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.

Sebutan blangkon berasal dari kata blangko,istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai.Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai,melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu,maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala,sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon.Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.


Blangkon jogja








Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.
Sebutan blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai,Melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu,maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yag selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakag blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon.Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon .Blangkon surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.


Kamis, 06 Juli 2017

filosofi blangkon





Blangkon adalah  tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.
Sebutan blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai., melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.
Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonojlan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.
Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya terpes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.


filosofi blangkon yogyakarta dan solo





Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.

Sebutan blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai,melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waku, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya tepes atau gepeng sedang gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.




Rabu, 05 Juli 2017

Blangkon Jogja Alusan






Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa .
Sebutan blangkon berasal dari kata blangkon , istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai, melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit . Seiring berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belangkang blangkon yang disebut mondholan . Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang dibagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon . Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekaramg lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya terpes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berebentuk bulat seperti onde-onde.




Rumah/Toko :
Jln. Pasar Ngipik-Pleret, Tegal Cerme, RT. 08, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Daerah Istemewa Yogyakarta. 55197 

Peta : 
Sumber dari Google Maps
klik


(Harga sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan)

Pemesanan :
Telp/sms/WA. 081804210607
Telp/sms. 082133775521


No Rekening Bank.

297289999 an. TRI Yanto
3008 01 015825 533 an. TRI Yanto
900 00 2535594 3 an. TRI Yanto

4451237190 an Eni Sulistyowati

Paket Pengiriman Barang : 



blangkon jogja JAVA OMBUS




Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa .
Sebutan blangkon berasal dari kata blangko , istilah yang dipakai masyarakat jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai , melainkan sama seperti ikat kepala lainnyayakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Sering berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa . Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka dibagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul dibagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas .

Sekarang liltan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde .


BUSANA TRADISIONAL ASLI DARI TANAH JAWA

Surjan adalah pakaian laki-laki jawa dengan ciri : berlengan panjang, berkerah tegak, dan bermotif lurik. Kata surjan, menurut salah satu tafsir, adalah tembung garba atau gabungan dari dua kata, yaitu "Suraksa" dan "Janma" , yang berarti "menjadi manusi". Sementara menurut tepas Dwarapura keraton yogyakarta , surjan berasal dari kata arab "surojan", yang berarti "pelita / penerang". Didalam Al-quran terdapat istilah "sirojan muniran", bermakna "pelita/penerang yang menerangi". Surjan awalnya diciptakan kanjeng Sunan Kalijaga sebagai baju takwa, selanjutnya dijadikan sebagai pakaian resmi Kasultanan Mataram.
Ada beberapa tafsir tentang makna-makna simbolis didalam surjan , diantaranya: bagian leher atau kerah yang memiliki enam kancing adalah melambangkan rukun iman yang jumlahnya enam. Dua buah kancing dibagian dada sebelah kanan dan kiri melambangkan dua kalimat syahadat. Surjan juga memiliki tiga buah kancing yang letaknya dibagian dalam, di dada dekat perut, letaknya tertutup, melambangkan tiga macam nafsu manusia yang harus di redam/dikendalikan/ditutup. Ketiga nafsu tersebut adalahnafsu bahimah(hewani), nafsu lawwamah(nafsu makan dan minum), dan nafsu syaitaniah(nafsu setan).

KERAJINAN WARONGKO DAN KERIS. 




Rumah/Toko :
Jln. Pasar Ngipik-Pleret, Tegal Cerme, RT. 08, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Daerah Istemewa Yogyakarta. 55197 

Peta : 
Sumber dari Google Maps
klik


(Harga sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan)

Cara Pemesanan :
1. Datang Toko/Rumah.
2. Telp/Sms 0821 3377 5521
3. WA. 0821 3377 5521 / 081804210607
4. Telp Rumah 0274 4435745



No Rekening Bank.

297289999 an. TRI Yanto
3008 01 015825 533 an. TRI Yanto
900 00 2535594 3 an. TRI Yanto

4451237190 an Eni Sulistyowati

Paket Pengiriman Barang : 




wa